Para sejarawan umumnya menyebut Umar bin Khathab Ra. dengan Umar I dan Umar bin Abdul Aziz dengan Umar II. Kisah hidup kedua “Umar” ini dicatat oleh sejarah dengan tinta emas. Keduanya adalah permata Islam, dan lewat keduanya, cahaya risalah Rasulullah Saw. terpantulkan dan menerangi seluruh umat. Sungguh, sebuah keberuntungan yang amat besar bagi umat Islam bahwa Allah Swt. telah melahi…
Pada tahun 2009, Habib Umar bin Hafidz menempati urutan ke-36 sebagai ulama yang sangat berpengaruh di dunia. Sepuluh tahun kemudian, yakni pada 2019, beliau menempati urutan ke-8 sebagai ulama yang sangat berpengaruh di dunia. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan reputasi, popularitas, dan terutama pengaruh Habib Umar bin Hafidz bisa demikian tinggi? Jawabannya tiada lain ialah karena ger…
Buku ini terdiri dari empat bagian.. Bagian pertama mendiskusikan tentang pergumulan Islam dalam kultur kebangsaan dan struktur kebangsaan. Bagian kedua membahas tentang sosok dinamika islam, struktur sosial dan kultur politik umat. Bagian ketiga mengusung tema tentang Islam, dialog agama dan kultur kerukunan. Bagian empat menyoroti tentang pergumulan Islam dalam menghadapi etika global dan kul…
Novel ini mengisahkan kehidupan Barman (lelaki tua yang sudah pensiun) yang berlibur ke gunung (villa) bersama seorang gadis muda (Popi). Liburan itu menjadi bermakna dan merupakan pencarian hakekat hidup dan perburuan spiritual yang indah baginya. Kuntowijoyo mengisahkan dengan lembut dan penuh makna apa yang dikhotbahkan lelaki tua itu di atas bukit.
“Mak masih ingat—,” Mak Siti meneruskan, “—sepuluh tahun yang lalu, di hari Intan masuk SMP, mak berjanji pada diri emak sendiri untuk menabung. Emak tak pandai menabung, tak berani ke bank, tak tahu caranya. Waktu itu, emak memohon pada Gusti Allah supaya emak bisa memenuhi panggilan-Nya. Berhaji. Naik haji. Ya, Allah....” *** Keinginan Mak Siti memang bukan sesuatu yang sederh…
Meski Bung Karno pernah memenjarakannya, Hamka tetap memaafkan. Di saat Pramoedya Ananta Toer menuduhnya sebagai seorang plagiat, Hamka tetap berlapang dada. Menganggap tuduhan Pram hanya kesalahpahaman semata. Hamka tetap mendudukkan Pramoedya sebagai sastrawan tanah air yang memiliki prestasi gemilang. Bahkan, saat Muhammad Yamin mendiamkannya bertahun-tahun lamanya hanya karena berseber…